Oleh: crowdedpencil | Desember 31, 2009

BAHASA INDONESIA SEBAGAI IDENTITAS DAN PENYATU BANGSA MENGHADAPI PENGUBAH SOSIAL

Fungsi Bahasa Indonesia
Seminar Politik Bahasa Nasional, 25-28 Februari 1975 di Jakarta, antara
lain merumuskan bahwa di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional,
bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat BI) berfungsi sebagai (1)
lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3)
pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya
bahasa, dan (4) alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah (Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1975:5).
Beriringan dgn pesatnya perkembangan BI sebagai
lambang identitas nasional, teraktualisasikan pula perkembangan bahasa
daerah (selanjutnya disingkat BD) sebagai lambang identitas daerah yang
keberadaannya diakui di dalam UUD 1945 yang secara bersamaan dengan BI
menghadapi arus globalisasi.
Identitas bangsa
Sosok yang menunjukkan bahwa dia adalah Indonesia, baik sebagai negara
maupun sebagai bangsa, berwujud dalam dua kenyataan, yakni BI yang
menampakkan diri sebagai identitas fonik dan merah putih serta Garuda
Pancasila sebagai wujud fisik.
Pengaruh arus globalisasi dalam identitas bangsa itu
tecermin, antara lain, dari sikap lebih mengutamakan penggunaan bahasa
asing (disingkat BA) daripada penggunaan BI, misalnya dalam penamaan
kompleks perumahan, dan sikap mementingkan kegiatan tertentu, misalnya
demi kegiatan pengembangan pariwisata dan bisnis.
Pengaruh Muatan Lokal sebagai Upaya Penangkal Arus
Globalisasi
Berdasarkan Petunjuk Penerangan Muatan Lokal (Depdikbud, 1987), yang
dimaksud muatan lokal adalah program pendidikan yang isi dan media
penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial,
lingkungan budaya, dan kebutuhan daerah yang perlu dipelajari oleh
murid.
Tantangan itu dapat dilihat dari kenyataan BI itu sendiri, dan yang satu dari pemilik dan penutur BI sendiri.
Tantangan yang datang dari pemilik dan penutur Bi sebenarnya bersumber
dari sikap, kesadaran berbahasa yang kemudian tecermin dalam perilaku
berbahasa (lihat Fishman, 1975:24-28, Pateda, 1990: 25-32).
Terhadap ujaran sulitnya mendapatkan padanan istilah yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sebenarnya Pusat Bahasa
bekerja sama dengan para pakar dalam disiplin ilmu tertentu telah
mengupayakan menerbitkan kamus, antara lain Kamus Istilah Teknik
Perkapalan (Soegiono dkk, 1985), Kamus Istilah Politik (Muhaimin dkk,
1985), Kamus Istilah Teknologi Mineral (Soetjipto dkk, 1985), tetapi
barangkali tidak luas, maka tuduhan di atas muncul.
Persoalan krisis jati diri yang berpangkal dari
pandangan bahwa manusia sebagai substansi, dan sebagai makhluk yang
beridentitas yang kemudian dikaitkan dengan pembinaan dan pengembangan
BI sebagai upaya mempertahankan identitas bangsa, maka pengajaran
kebangsaan sebaiknya dipertimbangkan untuk diberikan dalam lembaga
pendidikan kita. Dewasa ini substansi jiwa kebangsaan seolah-olah ditempelkan pada mata pelajaran PMP dan PSPB.
Selain itu, penggunaan kata-kata, daripada, yang mana,
di mana, saudara-saudara sekalian, dianggap bukan sesuatu yang salah
oleh para oknum petinggi di negara kita ini. Dengan kata lain, terdapat kontroversi antara norma bahasa yang dikumandangkan oleh Pusat Bahasa dan kenyataan di lapangan. [depdiknas]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: