Oleh: crowdedpencil | Desember 3, 2009

PANTANGAN DALAM SEBUAH ARGUMEN ,better known as “adu mulut”

Bagi kebanyakan orang, bahan pertengkaran sewaktu bertengkar-mulut selamanya tidak bersifat membangun, selain saling membentak dengan keras, juga biasanya lantas mengungkit-ungkit lagi persoalan basi yang tidak relefan, atau terceplos keluar perkataan ekstrem yang bersifat melukai perasaan. Alhasil, terkadang malah bagaikan telah menanamkan benih api bagi pertengkaran selanjutnya. Pada dasarnya pertengkaran semacam itu dalam hal penyelesaian masalah, malah sama sekali tidak bermanfaat.

Apabila hendak berdebat dengan efek yang positif, harus diperhatikan dua hal di bawah ini:

1. Harus menjernihkan kesalah-pahaman pihak lain, juga harus dengan jelas menyatakan pemikiran diri sendiri, misalkan sewaktu bertengkar, ketika pihak lain berkata: “Saya merasa kamu benar-benar sangat egois.”


Waktu itu, anda jangan sekali-kali menjawab dengan bergegas: “Bagaimana dengan kamu? Apa baiknya kamu?”.

Anda semestinya dengan hati tenang bertanya kepadanya: “Kenapa kamu bisa merasakan seperti itu, apakah perilaku saya ada yang kamu rasakan demikian?”

Ini adalah untuk menjernihkan pemikiran pihak lain. Apabila bukti yang diajukan pihak lain tidak wajar/benar, anda juga harus memberikan penjelasan tambahan untuk ketidak-wajaran tersebut. Dengan gamblang menyatakan pemikiran masing-masing, dari keributan tersebut kemungkinan baru akan muncul titik temu, jikalau tidak, akan mudah terseret ke pelampiasan emosi yang tak bakal menghasilkan kesimpulan.

2. Harus tahu dengan jelas kebutuhan masing-masing pihak.

Harus ingat untuk menanyai pihak lain: “Kamu menghendaki saya berbuat bagaimana baru bisa memuaskanmu?” atau dengan jelas memberitahu pihak lain tentang kebutuhan anda (dengan lain kata ia harus bagaimana baru bisa memuaskan anda).

Kebanyakan orang sesudah selesai bertengkar, kedua pihak sama sekali tidak jelas dengan simpul persoalan masing-masing pihak. Dalam situasi seperti ini, klarifikasi dengan jelas masing-masing kehendak adalah sangat diperlukan.

Misalkan saja, ketika pihak lain berkata: “Kamu setiap kali mengacuhkan perasaanku”.
Anda bisa bertanya: “Saya seharusnya bertindak bagaimana, kamu baru merasakan niat baikku?”
Jikalau ia berkata: “Saya berharap kamu bisa seringkali mendampingiku.”

Maka anda selanjutnya bisa bertanya: “Kamu merasa dalam satu minggu harus mendampingi berapa hari, baru kamu merasakan tidak lagi diacuhkan?”

Jangan sampai merasakan klarifikasi tentang persoalan ini adalah hal dungu, kebanyakan orang justru terikat dengan pendapat keliru tersebut.

Coba dipikir, jikalau pihak lain berkata: “Saya berharap kamu bila punya waktu maka dampingilah aku.” Sedangkan anda menjawab: “Saya tidak mungkin mendampingimu setiap hari. Jika 3 hari dalam satu minggu mendampingimu, bisakah kamu menerimanya?”

Coba anda lihat, bukankah ini adalah awal dari komunikasi? Ketika anda menjawab dengan demikan, pihak lain barangkali sudah memahami permintaannya tidak masuk akal, dan rela berunding. Model komunikasi semacam ini bukankah lebih bermakna daripada saling bertengkar?

PANTANGAN DALAM BER-ADU MULUT
Sewaktu bertengkar juga sebisa mungkin menghindari hal-hal dibawah ini sbb.:

1. Hindari permasalahan yang hampir tidak mungkin diubah.

Misalkan mencela tinggi badan pihak lain tidak mencukupi, bentuk body tidak baik atau kurang menghasilkan uang dlsb.

Jikalau anda adalah pihak yang dilecehkan, saya usulkan anda bisa menjawabnya dengan tenang: “Saya tahu saya memang betul seperti itu, demikianlah diri saya. Membahas masalah ini, bagi kebersamaan antara kita berdua tidak akan membantu, oleh karena itu, marilah kita membahas bagian yang bisa kita ubah?”

Jikalau anda adalah orang yang melecehkan pihak lain, maka sebuah persoalan harus dipikirkan dengan jelas, pihak lain sudah seperti itu, apabila anda bisa menerimanya maka hiduplah bersamanya, apabila tidak, pertimbangkanlah untuk meninggalkannya.

Memaksakan pihak lain untuk melakukan sesuatu hal yang mustahil diubah, hanyalah akan menambah rasa saling keterpurukan. Apabila masalah pihak lain adalah membutuhkan therapy dalam bidang psikis (misalkan karakter yang emosional, kecanduan alkohol, pesimis, sifat menyendiri dll), maka anda harus membantunya mencari alternatif dari para pakar.

2. Jangan mengungkit kekurangan masa lampau, harus memperdebatkan permasalahan kebersamaan untuk masa depan.

Di dalam proses perselisihan, janganlah selalu mempersoalkan kekurangan masa lampau, itu tak lain hanyalah akan menambah emosi negatif kedua belah pihak, sama sekali tidak dapat menyelesaikan masalah. Penulis mengusulkan jika menjumpai situasi semacam itu, boleh mengatakan: “Hal yang sudah lewat jangan lagi dibahas! Sekarang kita coba rundingkan, di masa depan apabila menemui permasalahan semacam yang terjadi hari ini, semestinya bagaimana?”

Anda boleh mengajukan metode penyelesaian anda, lihat pihak lain apakah bisa menerima atau tidak, ataukah pihak lain berharap anda berubah seperti apa. Anda juga boleh menanyai pihak lain akan bagaimana menangani masalah, lihat apakah anda bisa menerima atau anda menyatakan harapan anda. Apabila seringkali melontarkan perkataan: “Kita kelak jikalau menemui permasalahan semacam ini akan bagaimana?” kalimat ini, bisa membantu kunci perselisihan kalian dari pelampiasan emosi dialihkan ke penyelesaian masalah.

3. Jangan memotong pembicaraan lawan

Jikalau anda terus-terusan memotong pembicaraan lawan bicara anda, sangat mudah menimbulkan amarah pihak lawan, untuk melakukan komunikasi yang efektif, jelas akan sulit.

Diusulkan semestinya dengan tenang mendengarkan secara tuntas omongan pihak lain lebih dulu, baru kemudian mengklarifikasi isi pembicaraan pihak lain. Apabila isi pembicaraan pihak lain tidak sistematis, anda boleh memintanya setiap kali hanya membahas satu inti permasalahan saja.

Kemudian setelah pihak lawan selesai menguraikan pandapatnya, anda bisa mengulangi pemikirannya, lalu konfirmasi kepadanya, apakah pengertian demikian sudah tepat. Biasanya, kondisi emosional pihak lain menjadi reda, bisa jadi dikarenakan anda telah dengan tepat memahami perasaannya. Maka dari itu, biarkan pihak lawan mempunyai peluang mengutarakan dengan leluasa pemikirannya sendiri, ini adalah hal penting.

Namun, ketika anda sedang berbicara, pihak lawan selalu saja memotong pembicaraan anda? Saat itu, anda boleh menukas dengan langsung: “Kamu selalu memutuskan pembicaraanku, dengan begini saya tak dapat menguraikan pemikiran saya.”

Ketika anda sudah mengingatkannya beberapa kali, pihak lain tidak ada perubahan, maka anda boleh mengatakan: “Saya rasa anda selalu memutuskan perkataan saya, dengan begini kita sama sekali tak dapat berkomunikasi. Jikalau kamu ingin melanjutkan komunikasi, maka silahkan saya mengatakannya dengan tuntas. Jikalau kamu tak mampu melakukan hal ini, maka kita sambung lagi besok.”

Pertahankan prinsip anda, sampai dengan pihak lain mau menghargai pembicaraan anda, baru anda melanjutkan lagi komunikasi dengannya.

4. Jangan bertengkar dikala sedang emosi

Ketika kedua belah pihak dalam kondisi emosional, tak pelak lagi bisa meninggikan volume suara, selain itu mudah mengeluarkan perkataan yang menyakiti hati orang lain. Saat itu komunikasi sudah tak bisa nyambung lagi, hanya berupa pelampiasan nafsu amarah saja.

Oleh karena itu, sebisa mungkin menghindari bertengkar dikala sedang emosional, tunggulah saat kedua belah pihak “cooling down” baru ulangi berkomunikasi.

Dalam beberapa situasi seperti contoh dibawah ini, sebaiknya hindari pertengkaran:
1. Sewaktu mengendarai mobil
2. Pagi buta sesudah jam 0.00
3. Sesudah minum alkohol
4. Dikala badan merasa tidak fit atau penat

Pada situasi seperti tersebut di atas, psikis anda mudah berada dalam kondisi bergejolak, seperti bensin yang mudah disulut, begitu bertengkar, sangat mudah terjerumus dalam teriakan yang tak bermanfaat, dengan demikian hanya akan membawa keburukan bagi hubungan kedua belah pihak yang bertikai, tidak ada manfaatnya.

Apabila pihak lain ngotot mencari anda untuk bertengkar, anda boleh beritahukan dia: “Emosimu sekarang ini terlampau bergejolak, pembicaraan kita tidak akan membawa hasil. Besok pasti saya akan menyediakan waktu untuk berkomunikasi denganmu.” Harus mempertahankan prinsip ini.

Di dalam hubungan akrab antar manusia, pertengkaran tak dapat dielakkan. Pertengkaran yang sifatnya membangun bisa memperoleh pengertian dari pihak lain, sehingga perasaan kedua belah pihak bisa semakin akrab. Oleh karena itu, asalkan dapat menguasai esensi pertengkaran dengan tepat, akan membawa banyak manfaat bagi hubungan kedua belah pihak.

RUANG PSIKO THERAPI

METHODE:
Harus menjernihkan kesalah-pahaman pihak lain, juga harus dengan jelas menyatakan pendapat sendiri. Harus tahu dengan jelas kebutuhan masing-masing pihak.

PANTANGAN:

1. Hindari problema yang nyaris tidak mungkin untuk diubah.

2. Jangan mengungkit kekurangan masa lampau, harus berdebat tentang permasalahan pergaulan bersama di masa depan.

3. Jangan memotong pembicaraan pihak lain.

4. Jangan bertengkar dikala emosi sedang labil.

Dikutip dari: <Putar Haluan Pemikiran Sekejap, Hati Tidak Lagi Risau> Disupply oleh Yuan Shui Wen Huaww


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: